Minggu, 05 September 2010

Pemimpin Ideal

Oleh Yahya
Dikisahkan, pada zaman dahulu kala hidupla seorang penguasa yang galak dan berani. Tetapi ia dicintai oleh rakyatnya, sebab kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi dan golongan si penguasa.

Di bawah kepemimpinannya, negaranya menjadi sangat disegani baik oleh lawan maupun kawan. Suatu saat, negerinya ini tertimpa musibah, yaitu kemarau panjang dan wabah penyakit yang mengakibatkan krisis yang sangat parah di segala bidang. Korban pun mulai berjatuhan. Kesaksian orang yang hidup pada zamannya yang dicatat oleh sejarah antara lain: "Orang-orang dengan cepatnya mati."
Sang Pemimpin menghadapinya dengan penuh kesabaran dan tauladan yang tak akan pernah kita temukan saat ini. Dia tidak pernah mau makan di rumahnya sendiri. Tidak pernah mau memakan makanan yang tak dimakan oleh rakyatnya. Bahkan suatu saat ia melihat putranya memegang buah semangka dan ia pun berkata: "Bagus wahai anak pemimpin, kau makan buah yang enak sementara sebagian besar rakyatku mati kelaparan." Lalu sang anak pun keluar sambil menangis.
Sang pemimpin mengurus sendiri pembagian makanan kepada rakyatnya yang tertimpa musibah tersebut sampai-sampai salah seorang sahabatnya berkata: "Seandainya Allah tidak mengangkat musibah ini maka ia akan mati karena mengurus kebutuhan rakyatnya"
Kisah Nyata dan Bukan Romantisme
Kisah ini adalah kisah nyata yang dialami oleh Umar bin Khatthab dan bukan sekadar sebagai romantisme sejarah belaka. Seorang pemimpin yang benar-benar meletakkan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Dia tak sekedar membuat kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyatnya, tapi ia juga rela kehilangan apa yang dimilikinya demi kepentingan rakyatnya. Itulah yang tak dimiliki oleh kepemimpinan yang ada sekarang ini. Pemimpin kita hanya bersedia membuat kebijakan yang seolah-olah berpihak pada rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar