Sabtu, 19 September 2009

Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekhalifahan Abbasiyah

Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekhalifahan Abbasiyah

By Republika Newsroom
Rabu, 16 September 2009 pukul 08:49:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Facebook
Bookmark and Share
Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekhalifahan Abbasiyah

Pada abad ke-13 M, peradaban Islam memiliki seorang musikus ulung. Dia dikenal sebagai pencipta musik yang hebat di dunia Islam. Musikus Muslim legendaris itu bernama Safi al-Din al-Urmawi. Di era keemasan Islam, al-Urmawi telah menggunakan tujuh belas nada dalam menciptakan musik-musiknya.

Nada-nada yang diciptakannya itu, lalu dikembangkan bangsa Arab. Hasilnya, terciptalah musik-musik yang merdu dan enak didengar. Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Urmawi terlahir di Urmia pada 1216 M dan tutup usia pada 1294 M di ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad.

Para sejarawan memperkirakan, dari asal-usul etnis keluarganya, al-Urmawi merupakan keturunan Persia dari Quthb al-Din al-Syiraz,i yang sering disebut sebagai Afdhal-i Iran yang artinya adalah seorang yang bijaksana yang berasal dari Iran. Pada masa mudanya, al-Urmawi hijrah dari tanah kelahirannya untuk menimba ilmu di metropolis intelektual dunia pada masa itu, yakni Baghdad.

Di kota yang sangat terkenal itu, al-Urmawi mendapatkan pendidikan tentang bahasa Arab, sastra, sejarah juga seni tulisan tangan. Bahkan, dia juga mempelajari kaligrafi dan menjadikannya seorang ahli kaligrafi terkenal. Lalu dia diberi jabatan sebagai seorang ahli penyalin di perpustakaan yang dibangun oleh Khalifah Abbasiyah, al-Musta?im.

Selain mempelajari dan menguasai berbagai macam ilmu, al-Urmawi juga mempelajari ilmu hukum Syafi'i dan hukum perbandingan (Khilaf Fiqh) di Madrasah Mustansiriyya yang berdiri pada 1234. Kepandaiannya dalam kedua ilmu hukum tersebut membuatnya memenuhi syarat untuk mendapatkan pekerjaan sebagai administrator yuridis al-Mustasim pada 1258.

Setelah itu, kariernya kian moncer. Al-Urmawi kemudian dipercaya sebagai kepala pengawas yayasan (nazhariyyat al-wakaf) di Irak, sampai 1267, ketika Nasir al-Din Tusi mengambil alih kekuasaan di Irak. Selain berkiprah di bidang pemerintahan, al-Urmawi pun mulai dikenal sebagai seorang musisi terkemuka.

Ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang musisi dan pemain kecapi yang berbakat. Kehebatannya dlam bidang Muslim membuatnya menjadi seorang anggota pemain musik terkenal pada masa itu. Talentanya yang sangat tinggi dalam bidang musik, membuatnya tetap bisa bertahan hidu,p pada saat jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu.

Ketika Baghdad dihancurkan bangsa Mongol, al-Urmawi justru mendapatkan perlakuan istimewa dari Hulagu Khan. Pemimpin bangsa Mongol itu sangat terkesan dengan kehebatan al-Urmawi. Sang musisi pun mendapatkan gaji yang besarnya dua kali lipat dari pendapatannya di era kepemimpinan Dinasti Abbassiyah.

Karier musik Al-Urmawi pun semakin berkibar. Ia mendapat dukungan dari keluarga Juvayni, terutama oleh Syams al-Din Muhammad dan putranya Sharaf Din Harun. Namun, setelah para pendukungnya tersebut mendapatkan hukuman mati, Al-Urmawi mengalami kejatuhan dan keterpurukan. Dia terlupakan dan jatuh miskin. Bahkan dia dijebloskan ke dalam tahanan karena didakwa berutang sebanyak 300 dinar. Hingga akhirnya dia meninggal Madrasah al-Khalil di Baghdad.

Sebagai seorang komposer, Al-Urmawi dikenal sebagai seorang yang mengembangkan bentuk vokal sawt, awl dan nawba. Dia juga dikenal sebagai orang yang menemukan dua alat musik dawai yaitu nuzha dan mughni. Bahkan dawai masih menjadi alat musik yang disukai hingga zaman modern ini.

Jumat, 18 September 2009

Ya Allah anugerahkanlah aku pikiran yang jernih

Kadang-kadang aku beripikir ingin seperti teman-teman yang lain, yang bisa menggunakan akal pikirannya secara jernih, bukan dengan penuh emosi. Aku sendiri bingung kenapa aku bisa begini. Kepada temen-temen yang sempat baca blog ini tolong aku diberitahu bagaimana aku bisa mengendalikan emosiku. Ya Allah anugerahkanlah aku pikiran yang jernih.
Kau tahu kawan apa efek sampingnya? Aku tak bisa berpikir produktif. Minimal itulah yang aku rasakan. Aku hanya berpikir sesuai pikiran-pikiran yang telah ada sebelumnya. Atau bisa juga aku dikatakan "text book thinking".
Lihatlah kawan sampai di sini saja aku sudah tak tahu apa yang hendak aku tulis. Padahal sebelum aku buka internet semua bahan sudah ada di kepalaku. Oh, kalau begitu kapan aku akan meraih cita-citaku, menjadi penulis yang handal.